cerpen ini pernah aku ikut sertakan dalam Lomba , entah Lomba di mana . Aku lupa , karena urusan itu aku menyerahkan semuanya sama Pak Manager gahool , mau tau siapa ? Ah , nanti aja aku kasih tau . Yang jelas , dia itu tangan di balik bebrapa karya-karya ku yang udah masuk ke dalam draf penerbit , sebagai nominasi lomba untuk beberapa kategori yang sudah di tentukan . :) Yuuuuk read :)
“ Najis , cewe bekasan! Makan tuh bekas gue !!! “ .
Sebuah status Facebook yang di tulis Gisela tidak lain dan tidak
salah di tujukan kepadaku , Gisela belum bisa menerima kenyataan mantan
kekasihnya menjadi kekasihku saat ini.
Sekitar dua bulan jejering sosial bernama Facebook menjadi medan
perang antara aku dan Gisela beradu status .
“ gue gedek banget tiap gue buka facebook beranda
gue selalu penuh sama status Gisela , dan
ga perlu di pertanyakan lagi semua statusnya itu pasti buat Lo atau si Ramon “
tutur Tika membuka percakapan .
“ iya gue juga! , Plus sejak SMP gue benci sama
dia . Trus Lo mau diam aja Sha“ susul Windi melanjutkan .
“ Iya gue
tau . Anak itu makin gue diam mulutnya semakin tajam . Udah gitu , dia masih
sering ngontak Ramon , menurut kalian gue harus gimana ? aku menghabiskan ice
tea yang tinggal setengah.
“ wah , parah . Kenapa engga Lo ngomong sama Ramon
aja Sha ? “ saran Tika
“ udah , tapi Ramon Cuma bilang “ iya iya dan iya
“ . Mungkin dia juga masih punya rasa sama Gishela . Hubungan mereka kan ga
jalan satu atau dua belum sebelum Ramon sama gue, aku menunduk pasrah.
“ Loga boleh ngalah Sha , sekarang Ramon pacar lo . milik
lo , hak lo . Kemarin gue baca status Gishela , yang so pamer kalau dia udah
dekat banget sama keluarga Ramon . “ kata Tere tiba-tiba muncul semakin
mengompori .
Mendengar penuturan Tere aku hanya menarik nafas panjang dan, “ sudah lah , kalau bicara lagi tentang
keluarga Ramon dan Gishela emang ga salah kalau mereka sudah saling mengenal
dekat .
“ uups , gue salah ngomong yah Sory “ kata Tere
membungkam mulutnya sendiri.
Ahh , Lo dateng-dateng bikin
masalah “ semprot Windi dan Tika . Ya udah
ga perlu ngomongin orang ga penting kaya dia , mending kita jalan-jalan ajah
yuk “ kata Tere menebus rasa bersalahnya menutup percakapan . Akhirnya kami
membubarkan diri dari posisi duduk masing-masing dan melangkah meninggalkan
kantin .
“ Sha , Tahun baru ikut gue ya sama anak Skate .
Rencananya kita akan ke Bogor.” Ajak Ramon mengawali bicara , sementara aku
sibuk merazia ponselnya.
iya boleh-boleh , seru kayaknya.
Ke puncak ya ? “ balasku antusias. Iya , tapi kamu ga ada cara sama yang lain kan
? “ .“ Ga ada ko , 24 jam dalam sehari selalu ada waktu yang aku siapkan untuk
kamu” kataku lagi tersenyum pada Ramon , lalu kembali merazia ponsel Ramon.
Rupanya Ramon gemas padaku yang masih sibuk dengan ponselnya , Ramon nekat. Lima di kali dua menjadi sepuluh
dari jarinya kini menggelitik nakal di tubuhku , aku menjadi geli dan tertawa
meminta ampun,
“ Sayaaang,,,sayaang , apaan sih geli tau! Ihhh
Ramon , ia tidak memperdulikan , gelitiknya semakin nakal , ia begitu semangat
dengan aksinya. Tertawa puas , Rasain Lo
, makanya jangan main Hp terus “ tegas nya ,
Iyaa..ii..yaaaa ampuun , nanggung bentar lagi sayang “ aku memohon ,
“ Simpan Hpnya baru gue berhenti ,
“ nanggung sayaaaang , tawarku masih tertawa
menahan rasa geli . “
“ Okeeeee , lanjutkan !!!” jawabnya matang ,
tanpa berhenti menggelitik aku yang sudah seperti cacing kepanasan .“Iya..iyaaa
, udah udah . Aku simpan hp kamu. “ akhirnya menyerah , meletakan ponsel Ramon
di atas meja , tawanya makin pecah melihat aku menyerah . Tanpa basa-basi mendaratkan
bibirnya di bibirku, saling bersentuhan . Dua detik saja , berakhir dengan tawa
yang masih menyeringai .
“ Curang !
“ umpatku ,
“ tetep aja suka “ ia
menjulurkan lidah , kali ini aku yang menggelitik tubuhnya . Selalu ada bahagia
saat bersamanya , hadirnya seperti pelangi . Tiba-tiba , setelah hujan dan
penuh warna .
Siang itu , aku
bersama Tere tengah menikmati jus dan makanan kecil di kantin sekolah ,
tiba-tiba ponselku dengan profile silent bergetar sebuah tanda pesan singkat ,
segera aku meraih ponsel yang tergelatak di meja , sebuah pesan dari Ramon. Aku
segera membacanya ,
“ ada di kosan ? “ Seketika aku diam , menarik nafas panjang mencoba
membasahi rongga dada yang tiba-tiba terasa mengering , pikiranku berkecamuk
tidak karuan .
“ heh , Lo
kenapa ? sms dari siapa Sha ? “ gentak Tere membuyarkan lamunanku,
Ini baca “ aku menunujukan
pesan itu pada Tere . “ Oh , Ramon . Ya Lo bales dong . “ jawab nya enteng . Tere
, Ramon pasti salah kirim , pasti pesan ini buat Gishela “ . Tere terdiam
sejenak ,
“ waaah , iya bener. Parah-parah . Gawat nih Sha
. Coba Lo tanya sama Gishela basa-basi. Bukannya dia sekarang udah mulai baik
sama Lo “ kata Tere memberi saran . Aku hanya mengangguk kepala . Mengikuti
saran Tere , tanpa membalas pesan Ramon
, aku langsung mencari kontak bernama Gishela kemudian mengirimnya pesan singkat .
“ Gis, boleh nanya ? “ kataku
tanpa basa-basi. Tak lama ponselku bergetar, aku membuka,
“ Iya , mau tanya apah Sha“ Gishela membalas ramah .
“ Ramon sms lo ga , ngajakin ketemu atau ngapain gitu ? “
“ ohh kebetulan banget , baru aja gue balas sms dia . Dia nanya gue
ada di kosan atau ga ? ” Lo bales apa ? “
“ Gue bilang ada , dan kalau
dia mau ketemu . Gue suruh dia ke kosan gue , tapi ga ada maksud apa-apa ko Sha
, tadinya juga gue mau bilang sama lo . Lo keburu sms duluan . Sebenernya
beberapa minggu ini dia sering ngehubungin gue Sha, minta ketemu . Tapi gue
udah males, gue ga respon ko . Sory ya Sha “ . Gishela membalas panjang lebar.
Beberapa
minggu ini sudah terasa ada yang beda dari sikap Ramon , perhatiannya berkurang
, jarang memberi kabar dan sudah seminggu ini tak ada dering telefon yang
mengusik tidur malamku . Tapi mendengar penuturan Gishela yang berkata ia sudah
tak lagi meladeni Ramon , aku sedikit lega , kemudian memberi tahu isi pesan
kepada Tere.
Tere membacanya , “ Lo jangan asal percaya sama Gishela ya Sha , lo
tetep harus hati-hati “ . Tere berkomentar .
“ maksud lo ? “
kataku tak mengerti . Bisa aja itu Cuma speak
di depan lo , pokoknya sumber info jangan Cuma dari dia . Oke , gue tau lo
ngerti maksud gue “ . Tere menjelaskan , aku diam sebentar . Kemudian
menatapnya tersenyum .
Langit berwarna
jingga , semakin gelap tertutup awan berkelabu kemudian di susul rintikan hujan
menari-nari di atas permukaan tanah kering yang terdiam setia pada posisinya, tawa mengiringi perjalan ku bersama Tere dan
Tika. Yang asyik melintasi setiap sudut jalan dengan sekuter matic kesayangan
Tere , namun karena sebuah keributan air masal yang di sebut hujan itu mulai
mengusik perjalanan kami , memakasa Tere
menghentikan laju skuter nya ,
“ duuh , ujan
Lagi . Berenti dulu deh Re “ kata Tika memberi saran . Tere yang dari tadi
dengan tugasnya memainkan gas sekuter , menuruti apa kata Tika. Di berhentikan
sekuter pada sebuah warung kecil ,
sekitar 10 menit hujan mulai mereda . “ Re,
lanjut lagi yuk “ ajakku memberikan kunci motor pada Tere , Tere meraih kunci
motornya kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan , pandangan
kami menyapu ke sekitar , senja yang indah . Matahari kembali hadir dengan
sinarnya yang jingga , langit menguning . Aroma hujan masih terasa membasahi
jalan , sisa airnya masih menetes beberapa kali sampai di tubuh kami , kami
tertaawa menikmati senja . Tiba-tiba :
“ Sha ,
“ apa ? “
jawabku singkat ,
“ itu liat , itu Ramon sama Gishela , “ kata Tika memberi
tahu , jarinya menunjuk kepada seorang laki-laki dan perempuan yang sedang
berkendara santai di sebrang jalan . Aku melempar pandangan ke arah yang di
tunjukan , Tere mengikuti .
“ Annjirrr , ga salah
lagi . Itu Gishela sama Ramon Sha , samperin ! “ sungut Tere.
“ Samperin !!! “
susul Tika , aku tak menjawab apa-apa , hanya terdiam dengan mulut menganga tak
percaya dengan apa yang ku lihat ,
“ Heh , Berenti Lo “
, perintah Tere kasar ketika sudah menyampingi sepeda Motor Ramon yang melaju
santai . Gishela , air mukanya memerah begitu juga Ramon ia sontak mendapati
kami telah ada depan matanya .
“ Berhenti !!! “ kali
ini aku yang berperintah , perasaan kaget seolah menampar wajah mereka satu per
satu , dengan wajah yang masih memerah . Ramon tidak menghiraukan , ia terus
melaju . Gishela sesekali menatap kami ragu ,
“ berenti gue bilang
, Ramon . Atau gue dorong lo sekalian ! “ ancam ku . Wajahnya semakin
menjelaskan rasa takut dan perasaan kaget , Tere mempercepat laju skuternya
menyusul Ramon , tiba-tiba membuat Ramon kagok dan terpaksa pula ia harus
menghentikan laju speda motornya . Aku lekas turun dan mendekati Gishela dan
Ramon . Entah setan apa yang berhasil
mendobrak amrahku hingga membuncah, aku melayangkan kelima jari ke pipi Ramon,
aku menamparnya penuh emosi .
“ apa-apaan Lo ,
berani nampar Ramon ? “ Gishela membuka suara ,
“ apa Lo ga suka “
tantang Tere mendorong tubuhnya ,
“ gue ga masalah ya
sama Lo , gue masalah sama temen Lo “ . kata Gishela mengalamatkan telunjuknya
tepat di depan wajah Tere , kemudian ke wajah ku .
“ Apa lo , dasar
wanita jalang . Munafik lo bangsat “ aku menatapnya tajam ,
“ Lo berdua , segini
aja di belakang gue . Lo , gue kira lo udah berubah , tapi ternyata sama aja ,
aku bersungut menatap Ramon . Dan lo , ngatain gue cewe bekasan nyatanya apa ,
lo embat juga bekasan gue kan , cuiiiih !!! . Lanjutku pada Gishela.
“ Kurang ajar Lo ,
amarah Gishela mulai terpancing . Ia hampir melayangkan jarinya ke pipiku yang
lucu , tapi Ramon menahannya . Suasa semakin memanas , wajah Tere dan Tika
makin menegang .
“ Cukup Gish , cukup
!!! “ bentak Ramon dengan tegas ,
“ ko lo nahan gue ,
lo belain si cewe bekasan ini hah ?! “ sungutnya pada Ramon ,
Ia tak menghiraukan . Aku puas melihatnya ,
“ Sha , maafin gue .
Gue udah buat lo kecewa, marah dan pasti sakit hati “ tutur Ramon . Bego ! Pake
nanya sakit hati , jelas aja . Komentar Tika , lalu Tere mengedipkan mata ,
menyaratkan Tika untuk diam . Gishela menatapku sengit ,
“ Gue masih sayang
sama Gishela , tapi terlanjur sayang juga sama lo . Gue berat untuk memilih
diantara kalian , gue menyayangi kalian berdua. “ lanjut Ramon berkata jujur .
“ Hah , milih ? Gue
ga sudi ngasih pilihan sama cowo yang ga punya pendirian kaya lo . Gue buka
cewe pilihan , kalo lo sayang sama dia . silahkan sama dia , gue yang bakal
pergi . Gue ga akan jadi benalu untuk kisah cinta kalian yang penuh kemunafikan
ini ! kataku menegaskan , menatap Ramon dan Gishela bergantian .
“ Bagus kalo lo sadar
, seharusnya dari dulu lo menyadari kesalahan lo itu , Ramon milik gue dan
selamanya milik gue , bukan milik lo . Haha “ Gishela menjawab sinis , ia
tertawa puas . Wanita macam yang ada di depanku ini , ia bangga menelan
ludahnya sendiri , mengotori paras cantik dengan kotorannya sendiri .
“ Jalang lo dasar , puas udah menghancurkan
hubungan mereka ! Sungut Tika dan Tere kompak , iya Puas banget . “ balasnya
bersemangat . Ramon masih diam , ia menatapku dalam-dalam ,.
“ Sasha maafin gue “ . ucapnya sekali lagi , ku
pastikan itu ucapan terakhir untuk pertikaian kami sore itu . Darah dalam
nadiku semakin mendidih, aku tak dapat lagi menahan alirnya yang makin memanas
, aku tak mau berkomentar apa-apa lagi . Kali ini air mata yang ku biarkan
bermanuver, aku muak oleh kelakuan mereka . Langit kembali mendung , mewakili
perasaanku yang tercabik-cabik , sebentar lagi langit akan menangis
mengantarkan aku kepada perpisahan yang yang tak pernah ku bayangkan , ada rasa
sesal yang mendalam dalam wajah Ramon . Seeperti masih ada yang harus ia
jelaskan , tapi tertahan oleh perasaan yang telah memenjarakannya pada hati
Gishela , kini aku menyadarinya , ada batas cerita dalam dendang kenyataan yang
di lantunkan . Dalil cinta yang antara kita dulu tak ingin lagi ku ingat ,
semua telah padam setelah penghianatan melintas di hati yang sudah ku jadikan
rumah Indah untuk Ramon . Aku memilih
perpisahan ini , untuk menemukan sebuah perjumpaan baru . Aku berlalu dari
mereka , meninggalkan rasa sakit dan kemunafikan yang menghujani hatiku begitu
deras . Tak hanya itu , kepulanganku di
antar pula oleh hujan air yang membasi sekujur tubuhku dan wajah yang telah
banjir oleh air mata , Tere dan Tika menyusulku di belakang , mereka
menyematkan jari tengah masing-masing ke depan wajah para penghianat itu ,
Ramon dan Gishela .
“ Haha , mampus lo “ Gishela menyelamati puas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar