Sabtu , 4 januari 2014
Kebetulan
itu enggak ada, segala yang terjadi adalah atas perencanaan Tuhan. Tangan Tuhan
mampu mendekatkan hal yang sangat jauh , bahkan memisahkan yang telah begitu
dekat sekalipun .
Di
penghujung 2012 , Tuhan memperkenalkanku dengan lelaki yang usianya satu tahun
lebih muda , tubunhnya tinggi semapai , berat badannya sepadan tinggi badannya
. Seperti lelaki yang pernah kutemui sebelumnya , matanya sipit , rahang
panjang dan dadanya yang tegas , sempurna membuatnya rupawan . Setiap inci dari
pergerakan bibir yang tipis menyungging seuntai senyum , tak memberiku alasan
untuk tidak membalasnya .
Padahal
kita baru saling mengenal , setiap kalimat yang diucapkan memaksaku mendengar
dan mencerna setiap kata-demi kata yang keluar . Kita membicarakan hal yang
wajar , memberi perhatian dalam batasan normal , tak ada yang berlebihan .
Hanya saja , dari caranya menatap mataku saat bicara , anggukan kepala persekian
detik ketika wajahku berkspresi, menjelaskan dirinya paham apa yang kubicarakan
.
Logat
sunda mengikat kental dalam dirinya . Aku suka orang sunda , setiap kalimat yang keluar dari bibir tipis lelaki berzodiak Aries itu ,
sesekali tersemat istilah sunda yang kedengarannya lucu . Aku mengerti apa yang
dia sampaikan ketika bicara bahasa sunda , hanya tak bisa melafalkannya dengan
lidah jawaku . Heheh . Dia berkata sama ketika aku menantangnya bicara dengan
bahasa jawa.
Aku
menyukainya lebih dari melihat senyum dan pergerakan bibirnya, dia mampu
menghargai pertemuan perdana kita malam itu . Tak ada cacat sedikitpun dari
sikap dan bahasa tubuhnya ketika berinteraksi . Kecuali suara yang bergetar ,
karena gerogi . Di dekatnya aku
merasakan nyaman , teduh , dan hangat .
Aku menyadari betul , rasanya terlalu
cepat jika kusebut ini cinta. Sebuah keterikatan rasa yang mengaitkan antara
batin keturunan adam dan hawa . Lagi pula aku juga tak berani berasumsi seperti
itu , aku masih takut memulainya . Sesungguhnya tak bisa kuhindari lagi seluruh
perhatianku yang tertuju padanya , ada getaran kecil mengetuk-ngetuk perasaanku
. Belum lagi perut mulas luar biasa sedetik sebelum ku melihat sorot mata
beningnya . Siapapun kau yag membaca ini , pasti pernah merasakan yang kurasa
saat ini .
Aku
merasa kembali normal , setelah kurang lebih 17 bulan tidak mengenal perhatian . Aku kembali merasakan hal
yang bisa membuat orang setengah gila menjadi buronan cinta , terus berlari ,
menghindari , apalah daya . Kehendak Tuhan tak bisa melindungi takdir kita
sendiri . Persembunyianku di temukan , aku di tangkap , tersekap di dalam
hatinya .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar