Rabu, 19 Februari 2014

Satnight @home



Sabtu , 4 januari 2014
            Kebetulan itu enggak ada, segala yang terjadi adalah atas perencanaan Tuhan. Tangan Tuhan mampu mendekatkan hal yang sangat jauh , bahkan memisahkan yang telah begitu dekat sekalipun .
            Di penghujung 2012 , Tuhan memperkenalkanku dengan lelaki yang usianya satu tahun lebih muda , tubunhnya tinggi semapai , berat badannya sepadan tinggi badannya . Seperti lelaki yang pernah kutemui sebelumnya , matanya sipit , rahang panjang dan dadanya yang tegas , sempurna membuatnya rupawan . Setiap inci dari pergerakan bibir yang tipis menyungging seuntai senyum , tak memberiku alasan untuk tidak membalasnya .
            Padahal kita baru saling mengenal , setiap kalimat yang diucapkan memaksaku mendengar dan mencerna setiap kata-demi kata yang keluar . Kita membicarakan hal yang wajar , memberi perhatian dalam batasan normal , tak ada yang berlebihan . Hanya saja , dari caranya menatap mataku saat bicara , anggukan kepala persekian detik ketika wajahku berkspresi, menjelaskan dirinya paham apa yang kubicarakan .
            Logat sunda mengikat kental dalam dirinya . Aku suka orang sunda ,  setiap kalimat yang keluar  dari bibir tipis lelaki berzodiak Aries itu , sesekali tersemat istilah sunda yang kedengarannya lucu . Aku mengerti apa yang dia sampaikan ketika bicara bahasa sunda , hanya tak bisa melafalkannya dengan lidah jawaku . Heheh . Dia berkata sama ketika aku menantangnya bicara dengan bahasa jawa.
            Aku menyukainya lebih dari melihat senyum dan pergerakan bibirnya, dia mampu menghargai pertemuan perdana kita malam itu . Tak ada cacat sedikitpun dari sikap dan bahasa tubuhnya ketika berinteraksi . Kecuali suara yang bergetar , karena gerogi .  Di dekatnya aku merasakan nyaman , teduh , dan hangat .
Aku menyadari betul , rasanya terlalu cepat jika kusebut ini cinta. Sebuah keterikatan rasa yang mengaitkan antara batin keturunan adam dan hawa . Lagi pula aku juga tak berani berasumsi seperti itu , aku masih takut memulainya . Sesungguhnya tak bisa kuhindari lagi seluruh perhatianku yang tertuju padanya , ada getaran kecil mengetuk-ngetuk perasaanku . Belum lagi perut mulas luar biasa sedetik sebelum ku melihat sorot mata beningnya . Siapapun kau yag membaca ini , pasti pernah merasakan yang kurasa saat ini .
            Aku merasa kembali normal , setelah kurang lebih 17 bulan tidak  mengenal perhatian . Aku kembali merasakan hal yang bisa membuat orang setengah gila menjadi buronan cinta , terus berlari , menghindari , apalah daya . Kehendak Tuhan tak bisa melindungi takdir kita sendiri . Persembunyianku di temukan , aku di tangkap , tersekap di dalam hatinya .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar