Aku masih bertanya-tanya ,
sikap seperti apa yang harus ku tunjukan . Haruskah aku menangis , atau tertawa
merayakan hal ini . Satu sisi , aku
sangat menunggu saat ini , saat di mana aku telah habis waktu dan segera keluar
dari zona permainan yang tak pernah ku mengerti aturan mainnya sejak awal .
Sisi lainnya , aku akan
merasa kehilangan keluar dari fase yang telah mendewakasakanku lewat banyak
proses , lewat aturan dan tekanan .
Aku tak berharap ada di sini lebih lama lagi , karena
belum bisa mengerti bagaimana memainkan game ini , ada rasa bangga telah
berjuang di masa muda . Saat mereka sibuk berkutat dengan diktat kuliah , aku
sudah lebih dulu terjun ke dalam dunia perncarian penghasilan ( MeryRiana) .
Aku terperosok kepada kubangan aturan , mengahambat perjalananku menuju masa
depan yang telah ku rencanakan .
Aku benci ada di sini ,
dunia macam ini . Seperti negeri antah berantah . Tak ada ibu , ayah , Aa,
Teteh , tak ada CHAPRUK .
Perjuangan ini ku jalani dalam tekanan, bukan dengan
dukungan . Hingga membuatku merasa asing dengan hidupku sendiri , ku mainkan
sandiwara di depan ibuku . Tentu saja , garis hidup yang ku lalui saat ini
adalah doa dalam rupa ucapan yang selalu beliau sematkan dalam setiap percakapan
dengan banyak orang , aku menjadi buruh perusahaan . Aku tak pernah bermimpi
ini sebelumnya , aku berusaha menghindar dari kenyataan , tapi jalan buntu ku
dapatkan . Suka-tak suka aku harus melewatinya . Dalam benak aku berbisik , ini
hanya sementara . Aku pasti bisa melewatinya , meski harus dengan air mata dan
batin yang selalu menolak . Karena waktu , perlahan tapi pasti , akan berlalu .
Kini telah sampai pada
garis finish , aku akan segera pulang . Namun beginilah , sesuatu yang di
jalani dengan terpaksa tak akan membuahkan hasil dan melahirkan apa-apa , aku
pulang tanpa hasil yang benar-benar membuatku puas , karena tak pernah ada
usaha maksimal selama aku di sini . Ku terima tugas-tugas itu, tapi ku jalani
setengah-setengah karena tak ada api semangat yang berkobar membakar rasa takut
dan ketidaksiapanku .
Ibu , maafkan . Aku belum siap terdampar di sini .
Bekerja itu pilihan , tidak
bekerja itu keputusan . Aku memilih untuk bekerja , tapi ingin bekerja , dan
berjuang dengan dukungan yang matang dari orang-orang tersayang . Aku ingin
memilih harapanku sendiri , aku tak mau lagi menjalani sesuatu dengan keterpaksaan
, hal itu menyiksa batinku . Aku bisa bertahan sejauh ini , tidak bukan karena
doa dan wajah beliau yang selalu ku bayangkan dan sertakan dalam sujudku tengah
malam .
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,
aku ingin menjerit . Mungkin jika itu terjadi , jeritan ku akan sampai ke
langit ke-7 .
Entah tak pernah mengerti atau enggan menyetujui ,
beliau selalu sinis jika bicara soal kuliah . Padahal aku ingin seperti mereka
, harus bangun pagi dan berangkat ke kampus kemudian berkutat dengan
diktat-diktat tebal yang tak di mengerti isinya , aku ingin di sibukkan oleh
hal-hal yang membuatku banyak berfikir , di cerdaskan oleh pengetahuan yang
penuh antusias ku terima ilmunya , bukan untuk menunduk di bawah perintah yang
menyebalkan .
Aku benci .
Tapi ini sebuah pelajaran ,
aku menyadari betul banyak hikmah yang ku dapat dari perjuangan ini , aku lebih
sering berdialog dengan Tuhan dengan waktu yang lebih lama. Aku mengerti betapa
sulitnya untuk mengunyah sesuap nasi , seiring dengan itu aku juga tidak
memungkiri aku bisa mencukupi kebutuhan hidupku , aku bisa memiliki apa yang
aku suka dengan waktu yang relatif singkat , tak perlu lama menunggu dan
menghayal-hayalkannya lebil lama , tentu saja ku dapatkan itu semua dengan
hasil keringatku sendiri . Aku bangga menjadi diriku dalam peran itu , ya aku
mensyukurinya . Itu sebuah nikmat yang Tuhan beri , tapi seperti pada
hakikatnya manusia memang selalu lupa bersukuri , tak lain juga diriku .
Dan tak bisa ku tutupi lagi , aku sangat bahagia .
Esok akan ku temukan nafas baru dalam dunia kebebasan, sebuah pilihan akan
kufikirkan dengan keputusan yang benar-benar matang .
Semoga ada batas cerita yang
dapat beliau mengerti dari dendang kenyataan yang telah di lantunkan , aku akan
kembali memacu semangat . Mencambuk rasa malas , nafas baruku semoga sesuai
harapanku , jalan alternatif menuju masa depan . Aku harus kuliah , tahun depan
:’”
Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar