Sabtu, 19 Oktober 2013

I'm Free!!!


Aku masih bertanya-tanya , sikap seperti apa yang harus ku tunjukan . Haruskah aku menangis , atau tertawa merayakan hal ini .  Satu sisi , aku sangat menunggu saat ini , saat di mana aku telah habis waktu dan segera keluar dari zona permainan yang tak pernah ku mengerti aturan mainnya sejak awal .
Sisi lainnya , aku akan merasa kehilangan keluar dari fase yang telah mendewakasakanku lewat banyak proses , lewat aturan dan tekanan .
                Aku tak berharap ada di sini lebih lama lagi , karena belum bisa mengerti bagaimana memainkan game ini , ada rasa bangga telah berjuang di masa muda . Saat mereka sibuk berkutat dengan diktat kuliah , aku sudah lebih dulu terjun ke dalam dunia perncarian penghasilan ( MeryRiana) . Aku terperosok kepada kubangan aturan , mengahambat perjalananku menuju masa depan yang telah ku rencanakan .
Aku benci ada di sini , dunia macam ini . Seperti negeri antah berantah . Tak ada ibu , ayah , Aa, Teteh , tak ada CHAPRUK .
                Perjuangan ini ku jalani dalam tekanan, bukan dengan dukungan . Hingga membuatku merasa asing dengan hidupku sendiri , ku mainkan sandiwara di depan ibuku . Tentu saja , garis hidup yang ku lalui saat ini adalah doa dalam rupa ucapan yang selalu beliau sematkan dalam setiap percakapan dengan banyak orang , aku menjadi buruh perusahaan . Aku tak pernah bermimpi ini sebelumnya , aku berusaha menghindar dari kenyataan , tapi jalan buntu ku dapatkan . Suka-tak suka aku harus melewatinya . Dalam benak aku berbisik , ini hanya sementara . Aku pasti bisa melewatinya , meski harus dengan air mata dan batin yang selalu menolak . Karena waktu , perlahan tapi pasti , akan berlalu . Kini telah sampai pada garis finish , aku akan segera pulang . Namun beginilah , sesuatu yang di jalani dengan terpaksa tak akan membuahkan hasil dan melahirkan apa-apa , aku pulang tanpa hasil yang benar-benar membuatku puas , karena tak pernah ada usaha maksimal selama aku di sini . Ku terima tugas-tugas itu, tapi ku jalani setengah-setengah karena tak ada api semangat yang berkobar membakar rasa takut dan ketidaksiapanku .
                Ibu , maafkan . Aku belum siap terdampar di sini .
Bekerja itu pilihan , tidak bekerja itu keputusan . Aku memilih untuk bekerja , tapi ingin bekerja , dan berjuang dengan dukungan yang matang dari orang-orang tersayang . Aku ingin memilih harapanku sendiri , aku tak mau lagi menjalani sesuatu dengan keterpaksaan , hal itu menyiksa batinku . Aku bisa bertahan sejauh ini , tidak bukan karena doa dan wajah beliau yang selalu ku bayangkan dan sertakan dalam sujudku tengah malam .
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, aku ingin menjerit . Mungkin jika itu terjadi , jeritan ku akan sampai ke langit ke-7 .
                Entah tak pernah mengerti atau enggan menyetujui , beliau selalu sinis jika bicara soal kuliah . Padahal aku ingin seperti mereka , harus bangun pagi dan berangkat ke kampus kemudian berkutat dengan diktat-diktat tebal yang tak di mengerti isinya , aku ingin di sibukkan oleh hal-hal yang membuatku banyak berfikir , di cerdaskan oleh pengetahuan yang penuh antusias ku terima ilmunya , bukan untuk menunduk di bawah perintah yang menyebalkan .
Aku benci .
Tapi ini sebuah pelajaran , aku menyadari betul banyak hikmah yang ku dapat dari perjuangan ini , aku lebih sering berdialog dengan Tuhan dengan waktu yang lebih lama. Aku mengerti betapa sulitnya untuk mengunyah sesuap nasi , seiring dengan itu aku juga tidak memungkiri aku bisa mencukupi kebutuhan hidupku , aku bisa memiliki apa yang aku suka dengan waktu yang relatif singkat , tak perlu lama menunggu dan menghayal-hayalkannya lebil lama , tentu saja ku dapatkan itu semua dengan hasil keringatku sendiri . Aku bangga menjadi diriku dalam peran itu , ya aku mensyukurinya . Itu sebuah nikmat yang Tuhan beri , tapi seperti pada hakikatnya manusia memang selalu lupa bersukuri , tak lain juga diriku .
                Dan tak bisa ku tutupi lagi , aku sangat bahagia . Esok akan ku temukan nafas baru dalam dunia kebebasan, sebuah pilihan akan kufikirkan dengan keputusan yang benar-benar matang .
Semoga ada batas cerita yang dapat beliau mengerti dari dendang kenyataan yang telah di lantunkan , aku akan kembali memacu semangat . Mencambuk rasa malas , nafas baruku semoga sesuai harapanku , jalan alternatif menuju masa depan . Aku harus kuliah , tahun depan :’”
Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar