Aku bingung harus memulai dari
mana ? Aku tak mengerti bagaimana cara menyampaikan ini , aku masih bimbang
dengan keputusan yang masih mengambang .
Kalau boleh jujur ,
aku mencintai malam itu malam penutup bulan september. Ku nikmati setiap
pergantian detik menjadi menit , hingga berganti jam .
Setiap aku pulang
sendiri , aku lebih suka memposisikan tubuhku pada kursi pojokan urutanke tiga
dari depan , beruntungnya aku selalu menempati posisi favoritku .
Ada banyak situasi yang
ku nikmati ketika menempuh perjalanan Cikarang-Karawang sendirian. Aku sering
kali berkhayal suatu hari nanti , akan ada yang menemani lelahku saat ku sudah
merebah pada kursi Primajasa , mengajakku banyak bicara musnahkan rasa kantuk .
Ya aku merindukan di bahagiakan laki-laki yang ku suka .
Malam itu, Tuhan menjawabnya .
Harapan dengan suara pelan yang ku sertakan dalam kesepian ketika menatap luar
jendela menikmati setiap sudut jalan , aku bicara pada hatiku sendiri , aku
merindukan pria yang akan melindungiku dalam bus ini nanti .
Malam itu semua
harapan terjadi ,aku pulang tak sendiri
. Aku duduk bersebelah dengan laki-laki hitam itu , berambut setengah gondrong
yang tinggi pundakknya di kepalaku.
Ada rasa nyaman
terjaga di pundaknya yang tinggi , celah jemariku di isi celah-celah jemarinya.
perbedaan menjebak kita terlibat dalam cerita . Aku mencintai dia yang telah
berdua , aku mengingkan dia yang telah di miliki orang lain , aku tak dapat
lagi menahan gejolak rasa yang semakin mendidih panas minta di ungkapkan .
Lucunya , tingkah konyol dan
ceplas-ceplosnya menghipnotisku mengutarakan segalanya , segala rasa yang
mengendap di dada . Kali ini aku telah bicara sayang kepadanya , ku beritahu ia
soal cinta yang kurasa . Lalu siapa yang salah , aku dengan liarnya membuat ia
mendua entah melupa , apapun itu yang jelas aku tak perduli mereka saat ini ,
yang ku tahu aku bahagia duduk di sampingnya , bersandar di bahunya dan mencium
pipi empuknya :”)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar