Sabtu, 12 Oktober 2013

Subuh itu.


Subuh itu,
Ketika matahari masih pada persembunyiannya , ketika gelap masih enggan berlalu , dan matahari masih malu-malu menghangatkan sinarnya , seperti biasa mataku masih sulit tidur sebelum awan putih sedikit menampakan wujudnya .
Sepertinya pagi itu beliau mulai mengerti dengan keadaanku , paham dengan perasaanku . Gejolak rasa penasaran yang yang dapat lagi ia tutupi akhirnya membuncah juga . Masih sangat berat ku ceritakan semuanya , ku ungkap pengakuan yang memalukan , menyakitkan!! Aku bercerita tentang laki-laki yang menjadi sebab atas kesedihanku, kebimbanganku , air mataku . Ku ceritakan semuanya , rasa gengsi karena mencintai sebelah hati tak ku hiraukan lagi , aku tak perduli dengan yang sering beliau katakan dulu , beliau memiliki anak bungsu yang cantik , begitu banyak laki-laki yang menginginkan anak kesayangannya , aku . Nyatanya , aku membuktikan kalau perkataan beliau salah.  Akhirnya , aku menangis sejadi-jadinya sambil memeluk beliau , ku tenggelamkan kepalaku di dadanya , dengan sayang tulus tak ragu ku merasakan belai tangan yang menyentuh rambutku perlahan .
“ Kamu cantik , banyak yang menginginkan mu . Sayang padamu , bahkan ada yang rela melakukan sesuatu dengan cara yang konyol hanya demi mendapat perhatianmu . Kenapa masih laki-laki itu , laki-laki yang tak perduli dengan mu . Lupakan dia . “ Beliau sedikit menegaskan , aku tak ingin bicara apa-apa , saat itu yang ku ingin hanya menangis sejadi-jadinya , dan meluapkan segala emosi yang sudah ku pendam bertahun lamanya .
“ Kamu harus , sadar . Kamu dan dia seperti langit dan bumi . Dan sadar , kamu itu tidak pernah di harapkan untuk mengharapkan dia , lupakan dia “ . Hening , aku seperti di sambar petir , tubuhku menggigil. Tangisku makin menjadi memecah kesunyian pagi itu , penegasan beliau begitu menyakitkan . Cukup menyadarkan , tapi betapa hatiku sakit jika benar memang aku gadis yang tak di harapkan sama sekali untuk berharap pada laki-laki itu “ . Aku sungguh tak bisa bicara apa-apa lagi , ku rasa beliau paham jika air mata sudah menjelaskan semuanya .
Jika ada pilihan , kepada masa lalu jangan pernah kenalkan aku kepada laki-laki yang sekarang ku kenal ia sebagai pengecut , laki-laki yang hanya berlindung pada janji. Tapi Tuhan , bagaimanpun buruknya ia di mata ku dan mereka bahkan di mata beliau . Laki-laki itu selalu ku lindungi dengan kenangan , ya kenangan bersamanya dulu begitu baik ,manis , indah .  Karena aku tidak mengenal ia yang sekarang dalam nyata , ia yang suka pada pengabaian dan mencintai air mata .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar