Sabtu, 19 Oktober 2013

Ternyata , aku masih merasakan!


               
                Sejak bebrapa hari yang lalu pertemuan kita yang terhitung singkat , bahkan sangat kilat .
Aku mengingat semuanya kembali , tentang rindu , perasaan cinta , menunggu , terbungkus dalam satu kado bernama kenangan . Siang itu , Dia menyapaku ramah .
            Dia menyapa ketika mendapati hadirku di depan matanya, dan seperti biasa , aku selalu lupa mengatur detak jantung yang detaknya semakin kencang , darah muda dalam tubuhku kian memanas , tubuhku panas seketika tapi bukan demam . Dalam kondisi normal , aku akan menyapa dan menghampirinya , sayang sekali aku tak pernah merasa normal ketika sudah bertatap muka dengan laki-laki itu .
            Sampai sekarang ini aku tak mengerti apa alasanya , aku masih bersikap bodoh seperti itu , di depan matanya , menikmati suaranya , di ajak bicara oleh laki-laki itu sungguh aku tak bisa berbuat apa-apa, ini bukan berlebihan tapi beginilah kenyataan , pita suaraku menjadi putus-putus , nyaris tak lagi layak pakai . Aku selalu bicara dengan nada terbata di telinganya , ah bukankah itu sungguh memalukan . Padahal sedikitpun ia tak merasakan hal yang sama dengan diriku , tapi apa aku yang terlalu mendramatisir keadaan .
            Sebelum aku memutuskan menghabiskan waktu liburku beberapa hari di kota itu, aku sudah lebih dulu meresonansikan antara mata telinga dan hati agar tidak saling berkonspirasi . Ku persiapkan mataku untuk tidak menghadirkan bulir air bening ketika telinga mendengar yang tidak seharusnya terdengar , juga telah melatih hatiku untuk bersikap lebih kokoh sepeti karang di lautan. Namun pada kenyataannya , aku kalah dengan keadaan . Aku tak bisa melawan keputusan Tuhan .
            Mendengar namanya , mendengar katanya dia sudah tak lagi sendiri , mendengar tentang wanita yang sering kali ia bawa ke depan kawan , aku seperti di penuhi rasa amarah dan cemburu . Sambil mematut diri di cermin , aku berbisik pelan “How can i move on when i’m still in love “. Segala rupa tentang rasa kecewa , mengisi celah emosiku. Aku membenci kondisi seperti ini , tapi aku tak bisa berontak . Apa yang bisa ku perbuat jika yang sudah menjadi pilihannya adalah kebahagiaan untuknya , sedangkan aku . Aku bukan wanita yang ia pilih untuk menjadi sperpeat hatinya. Aku benci harus menyadari hal ini .
            Kalau saja aku lebih berani bicara tentang cinta di depan matanya, kalau saja ia tidak menutup rapat telinganya , kalau saja ia tak membuka kesempatan kepada wanita-wanita barunya setelah aku , kisah kita tak akan menjadi sejarah .
Ternyata , aku masih merasakan .
            Rasa sakit itu masih ada , sesak itu masih terasa . Aku belum mampu melupa .  
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar