Sejak
bebrapa hari yang lalu pertemuan kita yang terhitung singkat , bahkan sangat
kilat .
Aku mengingat semuanya kembali , tentang
rindu , perasaan cinta , menunggu , terbungkus dalam satu kado bernama kenangan
. Siang itu , Dia menyapaku ramah .
Dia
menyapa ketika mendapati hadirku di depan matanya, dan seperti biasa , aku
selalu lupa mengatur detak jantung yang detaknya semakin kencang , darah muda
dalam tubuhku kian memanas , tubuhku panas seketika tapi bukan demam . Dalam
kondisi normal , aku akan menyapa dan menghampirinya , sayang sekali aku tak
pernah merasa normal ketika sudah bertatap muka dengan laki-laki itu .
Sampai
sekarang ini aku tak mengerti apa alasanya , aku masih bersikap bodoh seperti
itu , di depan matanya , menikmati suaranya , di ajak bicara oleh laki-laki itu
sungguh aku tak bisa berbuat apa-apa, ini bukan berlebihan tapi beginilah
kenyataan , pita suaraku menjadi putus-putus , nyaris tak lagi layak pakai .
Aku selalu bicara dengan nada terbata di telinganya , ah bukankah itu sungguh
memalukan . Padahal sedikitpun ia tak merasakan hal yang sama dengan diriku ,
tapi apa aku yang terlalu mendramatisir keadaan .
Sebelum
aku memutuskan menghabiskan waktu liburku beberapa hari di kota itu, aku
sudah lebih dulu meresonansikan antara mata telinga dan hati agar tidak saling
berkonspirasi . Ku persiapkan mataku untuk tidak menghadirkan bulir air bening
ketika telinga mendengar yang tidak seharusnya terdengar , juga telah melatih
hatiku untuk bersikap lebih kokoh sepeti karang di lautan. Namun pada
kenyataannya , aku kalah dengan keadaan . Aku tak bisa melawan keputusan Tuhan
.
Mendengar
namanya , mendengar katanya dia sudah tak lagi sendiri , mendengar tentang
wanita yang sering kali ia bawa ke depan kawan , aku seperti di penuhi rasa
amarah dan cemburu . Sambil mematut diri di cermin , aku berbisik pelan “How can i move on when i’m still in love “.
Segala rupa tentang rasa kecewa , mengisi celah emosiku. Aku membenci
kondisi seperti ini , tapi aku tak bisa berontak . Apa yang bisa ku perbuat
jika yang sudah menjadi pilihannya adalah kebahagiaan untuknya , sedangkan aku
. Aku bukan wanita yang ia pilih untuk menjadi sperpeat hatinya. Aku benci
harus menyadari hal ini .
Kalau
saja aku lebih berani bicara tentang cinta di depan matanya, kalau saja ia
tidak menutup rapat telinganya , kalau saja ia tak membuka kesempatan kepada
wanita-wanita barunya setelah aku , kisah kita tak akan menjadi sejarah .
Ternyata
, aku masih merasakan .
Rasa sakit itu masih ada , sesak itu masih
terasa . Aku belum mampu melupa .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar