Tuhan , takdir itu apa ?
Apa
takdir itu tentang sebuah kebetulan yang memiliki banyak kesamaan . Kemudian di
permainkan oleh perbedaan yang menjerumuskan pada jurang perpisahaan . Sungguh
kejam !
Jika kau ciptakan kesamaan kenapa
harus ada perbedaan , bukankah perbedaan itu menyakitkan . Aku sedang
mencari-cari takdirku , menerka-nerka masa depan yang entah seperti dan bersama
siapa ? Ku kira engkau tahu apa yang yang menjadi harapanku , siapa nama yang
ku sertakan di setiap sujud dalam percakapan kecil bersamamu .
Takdir
itu , apa tentang menunggu ? Menunggu bertahun-tahun lamnya , menua bersama
waktu . Mengorek segala kenangan yang pernah teerabaikan , hilang bersama hujan
.
Haruskah satu tahun , dua tahun ,
tiga tahun , atau hingga mereka mencibirku dengan kata yang menyayat hati . Ada
banyak relasi mencoba meresonansikan
antara mata dan hati , aku tak perduli . Ku kira semua akan sama ,hilang
terbunuh waktu . Aku masih sulit melupakan , melumpuhkan berjuta kenangan yang mengotak-atik
hati dan fikiran sejak dua tahun lalu .
Dua
tahun , bukan waktu yang sebentar . Ada ratusan baris hari yang ku lalui tanpa
dia yang ku percayai sebagai takdir . Ada jutaaan bahkan milyaran menit yang ku
habiskan hanya untuk menghujani pipi yang lucu , berfantasi bersama masa lalu
yang membawa ku pada gerbang mimpi pukul 03.00 pagi dengan mulut yang menganga
, adakah dia tahu ? Itu kulakukan setiap hari .
Apa tak begitu mengerti alasan ku
menunggu nya sampai ribuan pagi menyapa sisa emosi semalam yang membuncah
dengan liarnya , seperti ada banyak alasan yang tak dapat ku jelaskan . Ku kira
ia mengerti dengan alasan ini, dia tahu . tapi tak mau peduli .
Masihkah
air mukanya basah , masihkah labirin di hatinya kosong ? atau sudah banyak yang
menggantikanku di sana , aku tak mau dengar . Pasti menyakitkan .
Yang
dia , kalian dan mereka tahu . Aku sudah memudarkan kisahku , kisah klasik yang
berahir tanpa alasan yang sulit ku pahami . Aku sudah terlalu sering melompat
dari satu hubungan ke hubungan lain , tetap terjatuh dan sakit . Sampai saat
ini , aku sudah merasa begitu kelelahan berlari-lari mengejar yang tak pasti ,
aku tak ingin mencintai lagi . Setelah rasa sakit yang bertubi-tubi menyiksa , karma yang begitu
gemas menghukum hati , ku rasa aku jera .
Untuk
rasa sakit ini , aku tak sudi lagi menerima dari mereka yang gemar mempermainkan
hati .
Segala rasa
sakit itu hanya bisa ku terima dari ia yang menjadi pertama untuk
segalanya.Aku
selalu bicara pada hatiku sendiri , bercerita kepada perasaan ku
tentang
keyakinanku pada setiap janji manis yang pernah ia proklamasikan , pada
malam itu .
Malam perpisahan , malam yang mengantarkan aku kepada ruang rindu yang
begitu dingin ,sulit
ku temukan kembali rasa hangat itu , aku mempercayainya menjadi
takdirku .
Tuhan , dekatkan hatinya dengan hatiku yang
pilu . Meski tak setinggi bahunya ,
biarkan
aku untuk menenggelamkan kepalaku di dadanya , aku menunggunya , merindukannya
, menyayanginya .Dia , takdirku . Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar